Kamis, 01 Desember 2011

Tom Clancy's Rainbow Six: Vegas 2

Game ini akan membuat kita kembali memainkan episode pertama Rainbow Six Vegas dan mencoba mengingat-ngingat setiap pertempuran yang saya lalui baik pada mode single player maupun multiplayer. Tadinya Rainbow Six Vegas memiliki tempo yang lambat dan penuh taktik tetapi berkat sistem sprint, game ini mengalami perubahan tempo permainan cukup signifikan dan peningkatan intensitas gameplay. Sementara peningkatan juga terjadi pada mode koperatif yang menyebabkan game ini menjadi layak dimiliki serta cukup seru untuk dimainkan bersama-sama dengan teman baik secara online maupun LAN.Mengingat game ini membawa nama besar Tom Clancy, cerita dalam game ini sudah tidak diragukan lagi dan sangat berbeda dibandingkan episode pertama Rainbow Six Vegas. Kali ini kamu tidak lagi bermain sebagai Logan Keller, kamu akan dihadapkan pada situasi kritis di mana sekelompok teroris akan menguasai Las Vegas dan tugasmu adalah mencegah mereka menginjakkan kaki mereka di Las Vegas.

Sama seperti seri terdahulu, kamu akan ditemani oleh dua orang sidekick yang tidak terlalu jago dan sering tidak bereaksi secara baik terhadap lingkungan. Sistem AI yang disertakan benar-benar membuat saya pusing, terkadang saya sering mengulang level hanya karena partner saya menyangkut pada tumpukan kotak yang dipakai sebagai tempat perlindungan. Untungnya mode single player cukup pendek dan bisa menjadi pemanasan yang baik sebelum memasuki mode online multiplayer.Sistem sprint dalam game ini menarik perhatian tersendiri, tadinya gameplay Rainbow Six terkesan sedikit lambat dibandingkan FPS sejenis yang banyak beredar dan hal ini termasuk wajar, sebab gameplay yang ditawarkan bersifast taktis dan sangat realistis. Masuknya sprint ala Gears of War membuat perubahan kecepatan baik secara pergerakkan maupun gameplay, kini kamu dapat melakukan sprint kedepan maupun kesamping. Terkadang, bila di hadapan kita ada sebuah granat aktif milik musuh, kayaknya enak juga kalau gerakan sprint ke belakang ikut disertakan (gerakan sprint ke belakang tidak bisa dilakukan dalam game ini).


Terkadang sebuah game yang masih berupa konsep tertulis terdengar sangat keren tetapi realisasinya jauh dari kesan keren dan terkadang malah terlihat buruk. Mungkin The Club bisa menjadi salah satu contoh yang pas untuk menggambarkan situasi di atas. Pada dasarnya The Club diterima oleh pasar, sayang gameplay yang disuguhkan justru biasa saja dan terasa belum matang.The Club menambahkan unsur baru dalam genre third person shooter, Bizarre selaku pihak developer menambahkan gameplay balapan ke dalam The Club. Kamu tidak hanya diharuskan membunuh sebanyak mungkin tetapi kecepatan dan akurasi menjadi perhitungan tersendiri. Poin akan diberikan setiap pembunuhan yang dilakukan, penambahan poin akan diperhitungkan dari banyak segi ataupun aspek. Contohnya, di mana tembakan disarangkan, seberapa jauh jarak target ketika dieksekusi dan tingkat kesulitan yang dialami ketika kita akan menghabisi target. Game ini juga memberikan penggandaan nilai dari setiap target yang kamu bunuh secara terus-menerus.

Mode singleplayer dapat dihabiskan dalam waktu tiga jam saja, jadi apabila kamu bukan tipe gamer yang maniak dengan kegiatan mengumpulkan skor, game The Club bukanlah pilihan yang tepat. Satu hal yang disesalkan dari game ini, dengan tingkat replayability yang rendah harusnya game ini memiliki gameplay yang advance, sayang gameplay yang ada di dalam game ini terasa dangkal dan cukup membosankan. Game ini harusnya memiliki lima tipe gameplay berbeda bila kita mendengar klaim pihak Bizzare, sayangnya pada kenyataannya The Club hanya memiliki dua buah gameplay yang benar-benar berbeda. Sisa gameplay yang ada terlalu mirip antara satu dengan yang lainnya, seperti mode siege dan survivor.Mode multiplayer menggunakan area yang dipakai pada mode turnamen. Inti dari game ini adalah pembunuhan massal yang cukup membosankan dan berulang-ulang, bahkan setiap musuh selalu muncul dari tempat yang sama sehingga sangat dimungkinkan untuk menghapal setiap lokasi musuh. Memanfaatkan timing yang tepat adalah kunci menyelesaikan game ini, bila kamu mengetahui waktu yang tepat untuk tancap gas dan mengerem sambil membidik musuh yang ada, skor yang tinggi bukanlah suatu hal yang mustahil.

Frontlines: Fuel of War

Rasanya saat ini sudah banyak game FPS yang dikeluarkan untuk konsol dan PC, apalagi Xbox 360 sering disebut-sebut sebagai konsol bagi penggemar FPS. Masih sangat jelas teringat bagaimana kerennya dunia Bioshock, serunya memainkan Call of Duty 4 dan pertempuran sengit melawan para flood pada Halo 3. Tidak dapat dipungkiri serial-serial tersebut berhasil mencuri perhatian dan sekarang Frontlines: Fuel of War berusaha melakukan cara yang sama, banyak promosi gencar yang mereka lakukan untuk mengangkat nama Frontlines: Fuel of War. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah game ini memang patut diperhitungkan? Atau game ini hanyalah FPS biasa yang banyak dirilis pada konsol dan PC.agi siapapun yang pernah memainkan seri Battlefield pasti menyadari banyaknya kesamaan yang diperlihatkan oleh game ini. Sistem yang diterapkan terlihat sangat mirip dengan gameBattlefield dan bahkan cara untuk memenangkan pertempuran dalam game ini sangat mirip dengan cara yang dipakai oleh game Battlefield. Kamu cukup merebut beberapa lokasi yang ada di dalam map dan menguasai semuanya sambil menahan gempuran musuh. Di beberapa poin kamu cukup berdiri di sebelah sistem satelit dan pada poin tertentu kamu harus menanam peledak dan kemudian meledakan bangunan musuh. Yang jadi masalah, sistem game ini membuat saya merasa melawan tumpukan bot yang bergerak dan bereaksi begitu-begitu saja. Mungkin bagi pemain Battlefield sistem ini terasa biasa saja, tetapi bagi sebuah game yang menitikberatkan cerita, sistem ini terasa sedikit aneh.


Terdapat dua kubu di dalam game ini, yang pertama adalah kubu Western Coalition Army (Amerika dan persatuan Eropa) dan yang kedua adalah kubu Red Star Allieance (Rusia dan Cina), sementara itu pertempuran berlangsung di daerah Timur Tengah. Setiap akhir misi terdapat cutscene yang menceritakan pertempuran dari sudut pandang wartawan perang Masalah utama yang menerpa game ini bukanlah pada bagian cerita, justru menurut saya pribadi masalah yang paling utama terdapat dalam game ini adalah keorisinilan ide yang dipakai oleh sistem gamenya. Rasanya game ini sedikit sekali melakukan inovasi yang menghindarkan game ini dari tudingan penjiplakan ide. Bahkan perubahan konsep dari multiplayer yang ada di serialBattlefield menjadi single player di Frontlines: Fuel of War terasa cukup dipaksakan.
Untunglah mode single player bukanlah sesuatu yang ditonjolkan di dalam Frontlines: Fuel of War. Mode yang paling menarik di dalam game ini adalah, multiplayer yang mengijinkan kamu untuk bermain bersama 49 orang lainnya. Pertempuran yang terjadi akan terasa sangat cepat dan taktis, selain itu banyaknya kelas yang ada menambah kerumitan mode multiplayer. Setiap kelas prajurit memiliki tiga tingkatan yang berbeda-beda dan setiap tingkatan memiliki kekuatan yang semakin meningkat di level yang lebih tinggi.
Dengan banyaknya job yang terdapat dalam game Frontlines: Fuel of War mode multiplayer menjadi keunggulan tersendiri dan untungnya kontrol yang ditawarkan tergolong mudah serta gampang dipahami. Kendaraan tempur yang ada didalam game ini juga mudah dikontrol dan dikuasai pergerakannya.


Sayang walaupun mode multiplayer menjadi andalan utama game Frontlines: Fuel of Warternyata mode ini hanya memiliki satu macam tipe pertempuran dan pada versi Xbox 360 kamu tidak bisa menjadikan konsolmu sebagai dedicated server sehingga hanya THQ lah yang mempunyai kontrol terhadap jalannya pertempuran.



Walaupun mode multiplayer hanya menawarkan satu buah pilihan tetapi pengalaman yang ada di dalamnya sangat tidak membosankan bahkan cendrung seru. Terkadang dalam sesi permainan situasi yang dihadapi sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya, hal ini akibat banyaknya senjata serta kendaraan yang dapat dipakai dalam gamenya.


Musik dalam game ini cukup menghentak dan memompa semangat, dialog-dialog yang dihadirkan walaupun tidak sempurna masih cukup keren dan lumayan dapat diterima. Sementara itu suara tembakan terdengar cukup realistis dan nyata. Apabila kamu memiliki koneksi internet dan menyukai gameplay FPS ala Battlefield, saya sarankan kamu untuk memiliki gameFrontlines: Fuel of War. Tentunya apabila kamu tidak bosan dengan gameplay tiruan serialBattlefield.

Grand Theft Auto IV

Rockstar memiliki sentuhan ajaib, perkembangan game-game buatannya selalu sangat mengejutkan. Dimulai dari GTA III yang merupakan game dengan konsep open world pertama, sampai ke San Andreas yang memiliki perkembangan yang jauh melebihi kedua GTA sebelumnya. Kali ini Rockstar memberikan kejutan yang lebih dahsyat, akhirnya serial GTA berani berhitung sampai IV. Di tengah-tengah era next-gen, Rockstar berani meluncurkan serial GTA terbaru. Kemajuan apa lagi yang telah dicapai oleh Rockstar melalui serial ini? Untuk lebih jelasnya mari kita simak review berikut.

























Liberty City merupakan tiruan detail dari kota New York lengkap dengan patung Liberty ditambah grafis menawan yang telah menjadi standard era next-gen. Rasanya memainkan GTA IV seperti melihat film mafia yang memang ada di Amerika pada tahun 50-an. Kini fungsi HUD dalam game hanya muncul ketika karakter utama melakukan aksi, hal ini tentu menambah kesan nyata ketika kita memainkan game GTA IV.

Pernak-pernik tambahan dalam game seperti paket tersembunyi telah dihilangkan, sebagai gantinya kini pemain dapat mengumpulkan beberapa benda yang terlihat lebih lazim untuk dikumpulkan oleh seorang mafia. Selain itu kini tempat untuk melakukan aksi berbahaya kini tersamar lebih baik di dalam kota Liberty City.

Efek yang ada dalam game kini lebih terlihat nyata, efek ledakan kini meninggalkan bekas asap panjang yang membumbung tinggi di angkasa. Selain itu bila terjadi hujan, efek kilatan dan petir sangat memesona. Kali ini hujan tampak membasahi jalan-jalan di GTA IV secara bertahap, tidak sekaligus seperti pada game sebelumnya sehingga tampilan menjadi lebih realistis. Di luar efek yang ditampilkan dalam game GTA IV, perilaku AI bertambah pintar dan membuat Libert City terlihat sangat hidup. Bila hujan datang penduduk kota Liberty City akan mulai membuka payung yang mereka miliki dan apabila seorang AI tidak memilikinya, AI tersebut akan berlarian sambil mengangkat tas atau tangan ke atas kepala. Semua kelakuan unik para AI, membuat Liberty City terlihat sebagai tiruan otentik dari New York City. 

Secara perlahan sinar matahari kemerahan akan muncul di garis horizon, semakin lama semakin terang dan berganti menjadi cahaya kuning yang menandai datangnya hari di kota Liberty City. Semua kesan yang didapatkan di dalam game, membuat saya menjadi saksi mata pergantian hari secara utuh dan sempurna layaknya dunia nyata.

Devil May Cry 4

Bersiap-siaplah karena game action hardcore telah datang di tengah-tengah kita. Well, jujur saja, saya termasuk orang yang paling menanti-nantikan munculnya sekuel Devil May Cry pada era next-gen. Rasanya sulit membayangkan evolusi grafis yang akan terjadi pada episode ini, mengingat game ini merupakan serial pertama Devil May Cry yang merupakan sekuel langsung dari Devil May Cry 2. Sekedar mengingatkan, Devil May Cry 3 merupakan episode prekuel dari serial Devil May Cry 1 hal ini pastinya menambah penasaran kamu untuk mengikuti kelanjutan petualangan Dante setelah akhir dari episode Devil May Cry 2. Jadi, langsung aja kita simak kenapa Devil May Cry 4 masuk ke jajaran game yang harus kamu miliki dan mainkan.Dalam game ini Capcom tahu kamu pasti tidak akan merasa cukup kalau Dante hanya seorang diri melawan demon-demon yang bertebaran di sepanjang permainan. Capcom biasanya memberikan kita karakter kedua atau ketiga, yang jelas kali ini Dante tidak hanya ditemanin bidadari cantik nan sexy seperti pada serial terdahulunya. Dante kali ini memiliki seorang rival, Vergil? Bukan, kali ini saudara kembar Dante tidak mengisi posisi rival. Kedudukan seorang rival dalam Devil May Cry 4, diserahkan kepada seorang anak muda yang mempunyai sedikit darah iblis dan memiliki gaya bertarung yang mirip dengan Dante pada Devil May Cry orisinil.


Nama pemuda tersebut adalah Nero, berbeda dengan Dante yang memang anak dari Sparda, Nero hanya memiliki tangan kanan yang berbentuk seperti tangan demon. Dengan tangannya, Nero dapat menarik sebuah target dari jarak yang cukup jauh kemudian menyerang dengan kombo-kombo dahsyat atau langsung menghempaskan musuh yang terpegang ke atas tanah. Secara garis besar, Nero memiliki gaya bertarung yang menyerupai Dante pada Devil May Cry 1sedangkan Dante masih bertahan dengan bermacam-macam gaya bertarung yang dia miliki pada Devil May Cry 3. Cerita Devil May Cry 4 berseting sebuah kota yang memiliki kepercayaan bawah Sparda adalah seorang Tuhan sekaligus penyelamat. Dalam sebuah upacara Nero sebagai seorang prajurit muda melihat dante datang melalui atap dan melakukan penembakan terhadap pemimpin dari Order of the Sword. Nero yang tidak mengetahui siapa Dante menjadi geram, dia ingin membalas perlakuan Dante kepada pemipin Orde dan teman-temannya. Hal ini membawa Nero ke dalam dua puluh misi yang penuh dengan balas dendam dan penghiantan, semuanya dilalui demi memburu Dante anak sang Sparda. Nero sebagai anak muda yang dilukiskan ceroboh dan sedikit kikuk bila menghadapi wanita, selain itu dia juga sangat mudah marah dibandingkan dengan Dante. Sedangkan Dante lebih terlihat bijaksana walaupun sedikit lebih crewet dibanding Dante pada Devil May Cry 1. Selain itu cara bertarung keduanya sangat berbeda satu sama lain Nero sangat diuntungkan dengan adanya tangan demon yang dapat menjangkau musuh dari jarak jauh. Sedangkan Dante walau sedikit kerepotan bila menghadapi musuh yang berada diluar jangkauannya, gaya bertarung Dante lebih efektif dibandingkan Nero.

Dark Sector

Dalam Dark Sector, pemain akan berperan sebagai Hayden Tenno, seorang agen pemerintah yang diutus untuk menuntaskan misi di negara fiksi bagian Uni Soviet yang bernama Lasria. Awalnya misi berjalan lancar, sayangnya ketika berusaha melarikan diri Hayden terinfeksi oleh virus yang menyebabkan mutasi genetika dan Hayden pingsan karenanya.

Kita Butuh Pemadam Kebakaran
Ketika terbangun Hayden memiliki senjata yang cukup mematikan berbentuk sabit bermata empat yang bisa dilempar dan kembali ke tangan Hayden seperti bumerang. Bila player ingin tahu seperti apa game ini dan belum pernah melihat screenshot Dark Sector, game ini memiliki tampilan yang sama dengan Gears of War. Bahkan kontrol dalam game ini sangat menyerupai Gears of War. Hal yang membedakannya hanyalah senjata sabit yang dimiliki Hayden Tenno. Untuk sistem persenjataan, player hanya bisa membawa dua buah senjata dalam setiap kesempatan dan player dapat memungut senjata yang berserakan, tetapi tidak akan bisa menggunakannya dalam waktu yang lama. Dalam game, player dapat mengakses black market yang bisa dimasuki melalui lubang got dan dalam setiap stage, jenis senjata yang dijual mengalami peningkatan jenis dan tentunya dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan senjata sebelumnya. Senjata yang player miliki dapat diupgrade sama seperti glaive milik player. Sepanjang permainan player akan menemukan beberapa upgrade yang berbentuk koper besi.Upgrade senjata dapat dilakukan di black market dengan biaya tertentu. Sistem pertempuran dalam game ini menganut sistem yang sama dengan Gear of War. Player diharuskan melindungi diri dari setiap tembakan, dengan cara berlindung di sudut-sudut bangunan ataupun obyek yang ada di sepanjang permainan. Dari sini terlihat kalau Digital Extreme bermaksud balas dendam terhadap Epic Games, mengingat Digital Extreme merupakan pecahan Tim Epic Games yang membuat Gears of War.